Pages

PENYESALAN vs KEIKHLASAN

Minggu, 12 Februari 2012


np:COLDPLAY-the scientist


       DUNIA adalah musuh bagi seorang pecinta. pecinta sejati akan selalu berharap dapat menunggu kekasihnya di depan pintu gerbang keabadian.
Ya itu yang sedang terjadi kepada seorang wanita yang menungu kekasihnya di depan pintu.
          Suatu ketika wanita itu di tanya oleh salah satu sahabatnya. “bagaimana hubunganmu dengan lelaki rahasiamu itu mun?” pertanyaan yang terlontar dari mulut disya. Seketika berubahlah ekpresi wanita itu. wajahnya berubah sendu, senyum yang mengembang di bibirnya hilang entah tak tau kemana,
matanya pun mulai terpejam, seolah sedang menghimpun segenap keberanian dan kekuatan untuk berbicara.
          Secara perlahan namun pasti mulailah wanita itu membuka matanya dan mulai berbicara “impian sering kali di permainkan oleh dunia. Dunia pun memberikan sejuta harapan yang indah, namun janganlah terlalu banyak berharap karena sebuah harapan mendekatkan kita dengan sebuah kekecewaan. Rasa kecewa ketika kenyataan yang kita peroleh tidak sesuai dengan apa yang sudah kita bangun”
          Disya pun mulai merasa bersalah dengan ajuan pertanyaannya. Seolah ingin memutar waktu dan menarik semua pertanyaan yang telah terlontar dari mulutnya. Wanita itu pun mulai berbicara kembali “sudahlah sya jangan merasa bersalah, hari esok tak mungkin untuk di tunda, hari kemarin pun tak mungkin akan kembali, itulah kenyataan hidup yang harus aku terima. Engkau tahu sya, masa SMA kita dulu itu adalah masa yang paling indah, dimana masa kecerian kita saat masih belia,  (#dengan sedikit simpul senyum) kita di pertemukan berbagai macam sifat yang unik dan lucu-lucu, berbagai macam pelajaran yang baru, berbagai macam tugas, berbagai macam ulah, yang tanpa memikirkan itu merugikan kita atau tidak. Di SMA itulah aku mengenal dia, tepatnya saat kelas 2 SMA,  menatap matanya yang indah bagai batu berlian yang berbinar-binar dan bersinar, wajahnya yang membawa kecerian, dan sikapnya yang membawa tawa dan menyenangkan hati. Siapapun yang mengenal dia pasti akan senang menjadi temannya. Bagi teman wanita tak sedikit yang menginginkan dia sebagai teman sepesialnya. Termasuk aku.
Kami ditakdirkan bertemu ketika jiwa remaja kami belum sepenuhnya mengenal makna cinta. Sedangkan cinta itu telah menerbangkan angan-angan kami begitu tinggi, hingga menembus pelangi. Saat cinta asmara melenakkan jiwa, tiba-tiba dia pergi. Aku tak bisa melupakan kenangan manis ketika bersama dia, ketika kita jalan berdua, mendatangai sebuah tempat, mendengarkan dendang ombak yang indah, merasakan belaian angin yang lembut, melihat rindangan pohon yang hijau, duduk diantara karang-karang, hingga memberikan sebuah karang yang berbentuk hati. Waktu itu aku merasa allah telah menurunkan seluruh kebahagian padaku. Sepanjang perjalanan pulang hati ini bercampur aduk, antara perasaan terharu dan bahagia.
Hari-hariku berlalu dalam dendang keindahan. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia. Hampir seminggu sekali kami bertemu, entah itu hanya berbincang-bincang di rumah atau maen keluar. Setelah berbulan bulan hubungan yang lebih indah dari untaian jamrud itu sedang aku nikmati, tiba-tiba badai yang begitu menyayat hati datang dan mencabik-cabik hubungan kami. Jika hanya tubuhku yang tercabik mungkin aku tak akan merintih dan bisa bertahan. Namun bagai mana aku bisa bertahan jika itu tidak hanya mencabik tubuhku namun hatiku hingga berkeping-keping. 
Badai yang menakutkan itu bermula dari kesibukan menjadi mahasiswa baru.  sejak saat itu jiwaku seolah bagaikan daun kering yang di permainkan oleh hembusan angin. Di pontang panting kesana kemari. Tiada gairah, tiada impian, yang ada hanyalah keputus asaan. Hancur sebuah impian yang aku bangun dengan harapan dan doa. Mungkinkah tangan takdir memang tidak menjodohkan kami? Jiwaku berontak, ingin rasanya kulawan takdir itu.
Namun sekrang aku tersadar betapa mulianya hati lelaki itu. sesungguhnya dia mencintaiku, namun dia tak ingin banyak berbuat dosa dengan ku dan dia ingin cepat mencapai cita-citanya untuk masa depannya kelak. Dan aku yakin hingga saat ini dia pun pasti masih mencintaiku, namun mungkin cintanya kepadaku sudah berubah, cinta untuk kawan. Meski seperti itu aku masih tetap begitu bersyukur ketika dia masih mau mengingatku (#dengan mata yang berkaca-kaca)”.  menyimak cerita itu ada rasa penyesalan dan haru di hati disya. dan segeralah dia memeluk erat wanita itu. hingga pada akhirnya tak ada yang kuasa menahan air mata mereka berdua. 
.... next to be continue .....

4 komentar:

  1. wow siti wina termasuk sang cerpenis Kah...???

    BalasHapus
  2. @suyati terimakash :)

    @zhi cun lee : masih tahap belajar kak.. bantuan saran dan kritiknya ya kak :)

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS